Nasional

Kriminolog UI: Pembunuhan Anak Politisi PKS Diduga Libatkan Orang Dalam

Kasus pembunuhan sadis yang menimpa anak politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Cilegon terus menyisakan tanda tanya besar. Sejumlah temuan awal kepolisian, mulai dari rusaknya kamera CCTV hingga tidak adanya barang berharga yang hilang, memunculkan dugaan kuat bahwa pelaku merupakan orang yang berada di dalam rumah korban.

Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Meliala, menilai indikasi tersebut secara signifikan mempersempit arah penyelidikan. Menurutnya, kondisi rumah yang memiliki sistem pengamanan dan tidak ditemukan tanda-tanda pembobolan menjadi faktor penting dalam analisis awal.

“Dengan tidak adanya tanda orang memaksa masuk atau keluar, hampir bisa dipastikan pelakunya adalah orang di dalam rumah. Bisa anggota keluarga atau orang yang biasa berada di lingkungan rumah tersebut,” ujar Adrianus dalam wawancara di Metro TV, Kamis (18/12/2025).

Ia menambahkan, temuan ini membuat kepolisian dapat lebih fokus pada lingkaran terbatas orang-orang yang berada di rumah saat kejadian. Langkah selanjutnya adalah mencocokkan alibi dan motif dari masing-masing pihak yang memiliki akses langsung ke rumah korban.

Pola Luka Jadi Kunci Motif

Korban diketahui mengalami banyak luka tusuk akibat senjata tajam. Menurut Adrianus, pola luka tersebut sangat krusial untuk menentukan motif dan kondisi psikologis pelaku saat kejadian.

Ia menjelaskan, terdapat dua kemungkinan utama. Pertama, luka tusuk bersifat acak dan tidak beraturan, baik dari sisi lokasi maupun kedalamannya. Pola ini biasanya mencerminkan pelaku yang panik dan bertindak tanpa perencanaan, atau dikenal sebagai disorganized murder.

“Jika tusukannya random dan tidak terarah, itu biasanya menunjukkan kepanikan. Bisa saja pelaku kepergok melakukan sesuatu lalu bereaksi secara spontan,” jelasnya.

Kemungkinan kedua, luka tusuk justru terarah pada bagian tubuh vital seperti jantung atau perut. Pola ini menunjukkan adanya niat yang lebih intensional dan emosi yang sangat kuat, seperti kemarahan atau dendam mendalam.

“Kalau tusukannya fokus dan berulang di titik fatal, itu biasanya mencerminkan luapan emosi yang besar. Bisa jadi korban adalah target utama, atau korban dijadikan pelampiasan emosi terhadap orang tuanya,” lanjut Adrianus.

Dugaan Bukan Pencurian, Tapi Masih Terbuka

Kepolisian telah menyampaikan bahwa tidak ada barang yang hilang dan motif pencurian dinyatakan tidak ditemukan. Namun menurut Adrianus, hal tersebut belum sepenuhnya menutup kemungkinan adanya upaya pencurian yang gagal.

“Bisa saja pelaku berniat mencuri, lalu kepergok oleh anak. Karena panik dan takut ketahuan, pelaku membungkam korban dengan kekerasan,” ujarnya.

Ia mencontohkan skenario di mana pelaku berasal dari orang yang bekerja di rumah, seperti asisten rumah tangga atau sopir, yang mungkin memiliki tekanan ekonomi. Namun ia menegaskan bahwa analisis ini masih bersifat hipotetis dan harus dibuktikan melalui penyelidikan forensik dan pemeriksaan saksi.

Kemungkinan Lebih dari Satu Pelaku

Terkait kemungkinan keterlibatan lebih dari satu orang, Adrianus menyebut hal tersebut masih terbuka. Namun, biasanya keterlibatan beberapa pelaku akan tercermin dari pola luka yang berbeda-beda.

“Kalau dilakukan oleh lebih dari satu orang, biasanya terlihat dari variasi kekuatan dan arah tusukan. Itu bisa dianalisis dari forensik,” jelasnya.

Hingga kini, kepolisian masih terus mendalami kasus tersebut. Publik pun menantikan hasil penyelidikan resmi untuk mengungkap pelaku di balik peristiwa tragis yang menewaskan anak berusia 9 tahun tersebut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button